Bhutan Expedition: Punakha Dzong

Aku mengawali hari dengan bangun pagi, karena akan melihat sebuah festival di tempat yang aku kunjungi di hari pertama, yaitu Punakha Dzong. Festival dimulai jam 9 pagi, layaknya sebuah festival nasional, sebuah lapangan di dalam Punakha Dzong dipadati dengan panduduk lokal maupun turis dari berbagai negara.




Sehari sebelumnya, Meg berkenalan dengan  seorang cowok Belanda bernama Roger. Dan ternyata mereka bertemu lagi di tempat ini. Awalnya aku ingin mengambil tempat di lantai atas agar aman dari kerumunan orang lokal dan kehilangan barang tapi Meg menarik lenganku dan mengajakku untuk bergabung dengan Roger yang sudah mengambil tempat di antara penduduk lokal. Aku berpikir, ini pengalaman langka untuk bisa berbaur dengan penduduk lokal atau bahkan suku asli Bhutan dalam suatu acara besar. Lagi-lagi pantat terasa pasan karena aku duduk di atas tikar terlalu lama, ingin membujurkan kaki juga susah karena padat. Tapi, rasa jenuhku berkurang karena aku bertemu dengan gadis kecil ini yang selalu menyambut lensa kameraku saat aku ingin memotretnya :")




Tepat jam 9 pagi, festival pun dimulai. Ada satu tarian yang menarik perhatianku, tarian itu bernama The Mask Dance of the Drum atau The Drametse Ngacham, di mana semua penari pria mengenakan berbagai macam topeng berbentuk hewan dan membawa tabuh yang dibunyikan dengan irama yang mencengangkan. Intronya seperti efek suara di film Inception, kalau kata Meg dan Roger. Dan emang bener sih. 

The Drametse Ngacham ( Tari Topeng ) dari masyarakat Drametse adalah budaya dan agama tari topeng sakral dilakukan selama Festival Drametse untuk menghormati Padmasambhava , seorang guru Buddhis. Festival ini diadakan dua kali dalam setahun, pada bulan kelima dan bulan kesepuluh dari kalender Bhutan. Fitur tari enam belas penari pria bertopeng mengenakan kostum berwarna-warni dan sepuluh orang lainnya yang terdiri dari memimpin orkestra oleh pemain simbal. Tarian ini memiliki bagian tenang dan kontemplatif yang mewakili dewa damai dan bagian yang cepat dan atletik, di mana para penari mewakili dewa murka

Penari mengenakan jubah biara dan mengenakan topeng kayu dengan fitur hewan nyata dan mitos melakukan tarian doa di cham soeldep, kuil utama, sebelum tampil satu per satu di halaman utama . Pertunjukan tari disertai dengan instrumen tradisional, yang dimainkan oleh orkestra dan oleh para penari sendiri. Orkestra terdiri dari simbal, terompet dan drum, termasuk nga Bang (silinder drum yang besar) nga lag, genggam melingkar, gendang datar kecil dan nga chen, drum dipukul dengan stik drum ditekuk. 

The Drametse Ngacham telah dilakukan di lokasi ini selama berabad-abad. Bentuknya memiliki baik makna keagamaan dan budaya, karena diyakini awalnya telah dilakukan oleh pahlawan dari dunia surgawi. Pada abad ke-19, versi Drametse Ngacham diperkenalkan di bagian lain dari Bhutan. Untuk penonton, tari adalah sumber pemberdayaan spiritual dan dihadiri oleh orang-orang dari Drametse serta desa-desa tetangga dan kabupaten untuk mendapatkan berkah. Tarian ini telah berkembang dari acara lokal berpusat di sekitar komunitas tertentu menjadi sesuatu yang mendekati bentuk seni nasional, yang mewakili identitas bangsa Bhutan secara keseluruhan. 

Meskipun tarian ini sangat dihargai di antara semua generasi, jumlah praktisi yang berkurang karena kurangnya waktu latihan, tidak adanya mekanisme yang sistematis untuk melatih dan menghormati para penari dan musisi dan penurunan bertahap dalam minat kalangan anak muda. Saat ini, hanya ada segelintir praktisi ahli dengan pengetahuan komprehensif tentang fitur tradisional tarian. Selain itu, penyebaran tarian ke bagian lain negara pasti akan mengarah pada distorsi nya (sumber: http://www.unesco.org/culture/intangible-heritage/06apa_uk.htm)

Seorang penari pria mengenakan topeng berbentuk kepala Garuda



Rasa panas dipantat kembali terasa, aku menengok ke atas untuk melihat-lihat. Dan ternyata banyak pasa biksu muda menyaksikan festival dari lantai atas. Begitu juga matahari yang mulai tinggi, akhirnya Meg memutuskan untuk berjalan-jalan dan dia kembali mengajakku. Lega banget rasanya bisa mengerakkan kaki setelah "terjebak" di kerumunan para penonton. Kami memutuskan untuk mengelilingi area lain di dalam Punakha Dzong dan bertemu dengan keindahan dan kecantikan dari wanita muda Bhutan, serta para biksu muda yang berjalan atau hanya berdiri secara bergerombol dan sesekali menatap ke arah lensa kamera kami.





Acara belum selesai, tetapi Sha sudah menetapkan waktu untuk kami berkumpul kembali pada jam 12 siang untuk makan siang. Sebelum menuju pintu keluar, aku melihat wanita asli Tibet ini. Sha bilang, banyak penduduk Tibet maupun Mongol sengaja datang ke festival ini dan sudah dipastikan mereka yang datang adalah penduduk beragama Buddha.



Hari menjelang sore, aku dan peserta ekspedisi menuju sebuah tempat bernama Khamsum Yuelley Namgyel Chorten. Untuk mencapai tempat itu, kami harus mendaki selama kurang lebih 45 menit, begitu juga untuk turun kembali ke kendaraan. Dan seperti inilah jembatan sebelum kami memulai mendaki.


Khamsum Yulley Namgyal berdiri megah di punggung bukit strategis di atas lembah Punakha. Pengrajin Bhutan termasuk tukang kayu, pelukis, dan pematung membutuhkan waktu selama 9 tahun untuk membangun kuil 4 lantai ini.

Ini adalah contoh yang indah dari tradisi arsitektur dan seni halus Bhutan dan satu-satunya dari jenisnya di dunia. Dibangun oleh Her Majesty the Queen Mother, kuil ini didedikasikan untuk kesejahteraan kerajaan dan manfaat semua makhluk.

Share:

0 comments