Rusuh di #JapanAsik



RUSUH! RUSUH! RUSUH!

Cuma itu yang bisa aku katakan sebagai gambaran di trip #JapanAsik kali ini. Gimana ngga? Sepuluh orang dalam satu AirBnb dan tiga kota dalam satu negara. Bepergian rame-rame ngga akan terasa membosankan kalau ada satu atau dua orang "badut", buatku, "badut" di grup ini adalah Dwika dan Tebe. Ini pertama kalinya aku bepergian dengan mereka, jadi ngga nyangka aja kalau Tebe diam-diam menghanyutkan. Kenapa? Misalkan nih, Tebe diam-diam mengambil foto salah satu dari kami, lalu dia edit di handphonenya lalu diungga di whatsapp group, yang sering jadi targetnya sih Dwika. Uwuwuwuw, mereka mesra sekali.

Haeeee Tebeeee :3

Oh ya, di Osaka aku ngikut Tebe, Gupta, Lala, dan Dimas ke Mamofuku Ando Instant Ramen Museum, di sana kami berkesempatan untuk bikin cup noodles sendiri. Dari berkreasi dengan kemasannya, sampai varian isi dan bumbunya. Coba, dari foto di bawah, bisa tebak ngga mana yang punya siapa? Harga per cup kalau ngga salah 200 Yen, lumayan lah bisa corat-coret daripada otak butek. Kapan yah Pop Mie bikin tempat kayak begini? #eh


Selain itu, aku juga ngikut mereka (minus Gupta) ke Toei Kyoto Studio di Kyoto. Isinya? PAHLAWANKU WAKTU SD! Ada yang tau dia siapa? Errr...nganu, itu pipiku terlihat gendut karena tertekan oleh syal, bukan karena bertambah gemuk selama di sana.




Kalau bepergian rame-rame gini, aku tipe orang yang ngikut ajah. Jadi maklumi kalau aku agak lupa sama urutan tempat-tempat yang aku kunjungi. Aku bukan penggemar Hayao Miyazaki atau Studio Ghibli, tapi begitu masuk ke museumnya, yang ada di pikiranku adalah... INI ORANG MAKAN APA SIH SAMPE BISA BIKIN BEGINIAN?! Aku takjub dengan karya-karyanya yang dikemas dengan ngga biasa di museum itu, sayangnya di dalam museum tersebut ngga diperbolehkan untuk mengambil foto maupun video.

 Ngemil lucu di Ghibli Museum (photo by mbak Uci)

Karena foto bareng pake tripod terlalu mainstream (photo by Goenrock)

Sebelum lanjut nulis tentang Tokyo sebagai kota terakhir kami, aku mau cerita dikit tentang beberapa hal yang terjadi di sebelum, di saat, maupun setelah bepergian rame-rame ini. Seperti yang kalian tau, aku tipe orang yang sebenernya lebih suka bepergian sendiri, tapi menurutku sesekali bepergian rame-rame ini ngga ada salahnya. Sisi positifnya adalah... ada yang motoin, itu pasti! Lalu ada temen ngobrol dalam bahasa Indonesia. Waktu aku ambil summer school di London, hampir setiap hari aku ngobrol dalam bahasa Inggris, apalagi waktu aku sempet deket sama cowok London. Enak sih, ada yang ngajarin bahasa Inggris secara langsung, tapi kalo keliatan begonya khan malu juga. Ya ngga? #lah. Sisi negatifnya adalah, jika kalian tinggal di satu tempat seperti kami, yang keluar akomodasi terakhir harus bawa atau oper kunci ke temen yang sekiranya bakal balik duluan. Udah kayak anak kosan aja yak? Huft. Kami semua di Jepang senasib, yaitu kedinginan dan koper ngga cukup untuk menampung barang-barang yang kami beli. Aku pribadi ngga belanja banyak karena mengutamakan uang untuk makanan dan transportasi. Di sisi lain aku juga bokek mendadak karena ada pengeluaran tak terduga beberapa minggu sebelum pergi. JEPANG MAHAL BRAY! LONDON JUGA NGGA KALAH MAHAL! #MalahCurhat.

Nah, udah siap baca mengalamanku dengan yang lain di Tokyo?

Share:

0 comments