Kehidupan Kuliah Pasca Sarjana: Jurusan Studi Gender SKSG Universitas Indonesia

Setelah 3 tahun menambah uang jajan sendiri lewat fotografi dan menghabiskannya juga di traveling, akhirnya aku memutuskan untuk ambil kuliah lagi. Jurusannya ajaib: Studi Gender di Universitas Indonesia. 

Oh ada toh jurusan itu?

Ada dwoooooks!


 Kalian pasti fokus ke tinggi badanku. NGAKU!


Berawal dari pengalamanku yang pernah pacaran sama cowok waktu SMA yang ternyata adalah seorang gay, butuh move on agak lama sekitar 2 tahun, lalu dapet mata kuliah Gender and Sexuality in World Politics waktu ambil S1 Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, Bandung sonoan lagi alias Jatinangor. Di mata kuliah itu, aku belajar tentang pernah LGBT dalam dunia politik. Makin ke sini, semakin banyak aku punya teman gay dan lesbian. Sekarang fotografi menjadi sekedar hobby, aku mencoba menggabungkan antara fotografi dan ketertarikanku di isu LGBT di Indonesia, lalu lahirlah projek foto LGBT di Indonesia yang aku unggah di sini

Salah satu alasanku untuk ambil kuliah pasca sarjana adalah (mumpung) aku belum menikah, karena aku khawatir bakal melewatkan kesempatan itu setelah menikah nanti. Awalnya aku ingin ambil beasiswa LPDP dan ambil kuliah di University of Manchester atau School of Oriental and African Studies, tapi apa daya belum rejeki. Kuliah ini memakan waktu sekitar 2 tahun, dari semester satu aku udah memutuskan untuk membahas apa untuk tesisku nanti. Topiknya adalah Komunitas Waria di Jogjakarta dari Perspektf Spiritualitas Agama Islam. Berat dan sensitif yah topiknya? Memang, tapi tujuanku adalah orang-orang lebih peka lagi akan mereka karena mereka juga manusia yang bersosialiasi, sama seperti aku, sama seperti kalian.

Cerita dikit soal SIMAK. Menjelang SIMAK, aku mengalami demam tinggi selama berhari-hari. Udah sakit, duduk paling depan, kelar ngga hidup loe?! Kelemahanku adalah Matematika, aku paliiiing males sama angka-angkaan. Materi yang diuji adalah Logika/Silogisme, Kuantitatif, Linguistik, dan Bahasa Inggris. Buat yang tau betapa stressnya baca soal Silogisme di SIMAK kemarin, mari kita makan kertas ujiannya berjamaah. BACA SOALNYA AJA UDAH BIKIN EMOSI SETENGAH MATI, ANJIR! KZL WA!

Lanjut ke cerita kuliah. Di jurusan itu sekelas ada 7 mahasiswa dan cewek semua, kebayang ngga kalo pas diskusi antara dua atau tiga orang, salah satunya lagi PMS, hari pertama dapet dan lagi sakit-sakitnya? KELAR DUNIA PERSILATAN






Ya kurang lebih begitulah... Lanjut!

Semester pertama aku dan teman-teman belajar tentang teori, lumayan lah bikin emosi meledak-ledak belajar itu. Menurutku, mata kuliah di semester 2 lebih menyenangkan karena ada mata kuliah Tubuh, Seksualitas dan Perubahan Sosial yang sekiranya bakal jadi bekal buat tesisku nanti.

Ngga butuh waktu yang lama untuk 7 mahasiswi menjadi akrab satu sama lain, yang jelas kami kesalnya kompak kalau ada mata kuliah yang diundur terus-terusan. Sayangnya, foto keluarga lengkap kami hilang atau aku salah simpen di folder entah yang mana. Yok kenalan dulu ama teman-temanku!

 Dwilia, aku, dan Ullynara (atas), Chenia (bawah)


Chenia, Ulya, aku, dan Nara

Sebenarnya ada dua orang lagi tapi sayangnya mereka paling susah diajak meluangkan waktu untuk foto bareng, padahal buat kenang-kenangan setelah lulus nanti. Dan ini adalah foto teman-teman dari semester satu, dua, dan empat. Sayangnya waktu aku belum punya lensa wide, jadinya pake handphone senior buat foto bareng ini. Kalian ngga salah liat koq kalo mahasiswa cowoknya cuma dua.


Di jurusan ini ada dua fokus, yaitu Kesetaraan Gender dan LGBT. Dari 7 mahasiswi, yang fokus ke isu LGBT hanya aku untuk tesisnya. Yaaaaah daripada ngga ada sama sekali ya khan? Perubahan jadwal kuliah dan tugas mingguan udah jadi makanan kami semua. Pusing baca jurnal, mata jereng karena menatap layar laptop terus, mulut berbusa karena hampir setiap minggu presentasi dll dsb. Sering presentasi membuat kami semua terbiasa berbicara di hadapan orang banyak, sering menulis paper dan makalah pun membuat keahlian menulis kami meningkat, dan sering adanya perubahan jadwal meningkatkan batas kesabaran kami. Dengan ini aku (dan mungkin teman-teman juga) menyatakan bahwa kami salut sama mahasiswa yang kerja sambil kuliah atau sebaliknya. Kami yang kuliah kelas reguler aja rasanya udah mau gila. 

Ntar setelah lulus, loe mau kerja di mana kak?

Pertanyaan bagus! Karena aku ambil S1 Hubungan Internasional, aku masih bisa coba daftar CPNS untuk Kemenlu, atau Young Professional Program milik United Nation alias PBB. Kalo belom rejeki? Aku mau coba cari kerja di Inggris (TETEP!), mau di museum kek, mau di gedung teater seperti Royal Albert Hall kek, aku mah hayuuuuk! Kalo belom rejeki juga? Kembali ke dunia agency advertising digital... di Eropa. YUK MAREEEEH!

Ngga sekali aku dapet komentar "banyak duit" karena lebih memilih kuliah lagi daripada kerja kantoran. Sini dek, kakak jelasin. Aku termasuk beruntung karena kedua orang tuaku sudah menyiapkan dana untuk anak-anaknya dalam dunia pendidikan, kedua orang tuaku ngga lulus kuliah, jadi wajarlah kalau mereka pengin anak-anaknya lebih sukses dari mereka. Lagipula, dengan ambil kuliah S2, setelah UAS bakal dapet libur sekitar 1,5 bulan. Orang kantoran jatah cutinya berapa lama? 21 hari? Dan kebanyakan ngga mau ambil semuanya langsung karena sayang ama jatah cutinya. Moonmaap pak, kami mahasiswa S2 kuliahnya ngga setiap hari, semester dua ini aku libur kuliah setiap hari Selasa. Sebagai orang yang paling anti ke mall pas akhir pekan buat nonton dan ngopi hore, libur kuliah di hari Selasa adalah surga karena bisa menikmati bioskop dan coffee shop dengan sepi. Memang, kami bayar cukup mahal per semesternya, tapi input yang kami terima sangatlah seimbang. Ngga hanya ilmunya, tapi teman-teman baru serta dosen-dosennya yang menjadi keluarga besar yang saling mendukung.

Yaaah, berarti loe ngga traveling lagi donk kak? 

Hweeeeeits, jangan salah. Ada yang namanya jatah absen, adik-adik tercinta. Setiap mata kuliah dapet jatah 3 kali absen yang pasti aku gunakan saat minggu-minggu awal semester, sebelum UTS, dan menjelang UAS. Traveling dan ikut kegiatan relawan di luar kota masih tetep jalan koq, malah latihan lari dan freeleticsnya aja yang terbengkalai. Wk


Buat yang masih komentar soal "banyak duit" karena aku ambil kuliah tapi situ masih suka ngeluh soal kerjaan kantor, sudahlah, simpan saja argumenmu :3

Share:

2 comments

  1. Wow, Gender Study! Saya taunya jurusan itu di luar negeri aja, ternyata di sini ada juga yaa hehehe. Keren bangeet kaaak!

    Selain karena pernah punya pengalaman dan melihat adanya masalah, apa lagi sih kak yang bikin tertarik masuk jurusan itu? Kan sepertinya ada juga jurusan lain yang bisa membantu orang-orang lebih peka dengan keberadaan LGBTQ? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Imaniar!

      Jurusan lain juga punya mata kuliah yang berhubungan dengan feminisme tapi paling hanya 3 SKS aja, tapi jurusan lain yang berkaitan erat dengan jurusanku adalah jurusan Sosiologi dan Antropologi karena ada hubungannya dengan pergerakan sosial (cth: Woman's March atau Gay Parade), ngga hanya dilihat dari aktor/individu yang mendukung pergerakan itu, tetapi mengamati dan mempelajari tujuan mereka dari melakukan pergerakan itu :D

      Delete