Panic Attack, Anxiety Problem and Failure

Aku menulis ini ditemani lagu-lagu yang sudah aku susun dan secangkir es coklat di coffee shop biasanya, mencoba untuk menulis apa yang ingin aku tulis meskipun ngga banyak orang yang akan membacanya karena selera yang berbeda. Itu hak kalian. Tapi menulis adalah salah satu hal yang aku lakukan agar isi pikiran dalam kepala tidak menumpuk, begitu juga dengan suara hati.

Di tahun 2015, aku mengalami panic attack yang sangat hebat dan itu masih menyerang hingga sekarang, biasanya menyerang ketika aku berada di situasi yang sangat tidak nyaman. Buat sebagian orang, panic attack adalah wajar meskipun tanda-tanda atau efeknya berbeda. Sayangnya, tidak semua orang bisa membantu atau mengatasi seseorang yang mengalami panic attack. Beberapa bulan lalu aku terserang panic attack karena aku mendadak harus berhadapan dengan orang banyak (ngga banyak sih, cuma 5-6 orang, tapi menurutku itu banyak, apalagi kalo mereka berisik), dan aku sedang bersama teman yang baru pertama kali melihatku diserang panic attack. Dia panik, bingung harus ngapain. Akhirnya aku mengatasinya sendiri meskipun hampir menyerah (baca: pingsan), saat itu hampir pukul 10 malam, mustahil buatku untuk pulang sendirian, akhirnya temanku mengantarku pulang setelah acaranya selesai. 

Makin ke sini, panic attack yang aku alami semakin terasa menyiksa. Aku mengalami gangguan tidur selama dua minggu, kalaupun bisa, aku hanya bisa tidur selama 3-4 jam saja. Menangis sebelum tidur dan sesudah bangun tidur menjadi hal yang biasa, aku masih bisa toleransi selama tidak mengganggu pola makan dan kegiatan sehari-hari. Memasuki minggu kedua, akhirnya aku tidak bisa menoleransi panic attack yang aku sadari berubah menjadi anxiety problem. Hal itu membuatku menolak keluar rumah, bahkan menolak keluar kamar selama tiga hari. Sampai pada akhirnya salah satu teman dari komunitas lari menyadari ada yang ngga beres denganku. Setelah aku mengungkapkan beberapa masalah yang sedang dan selama ini aku alami, dia memaksaku untuk keluar rumah meskipun hanya sebentar karena dia khawatir aku bakal melakukan hal yang berbahaya. Dengan segala usaha, akhirnya aku keluar rumah dan bertemu dengan dia di hari latihan lari kami. Kami saling berbagi pengalaman, dia mendengarkan aku bercerita, dia melihatku menangis, dan dia menawarkan tangannya untuk aku pukul sampai aku puas.

Mungkin kalian merasa heran karena kemarin aku terlihat sangat bersenang-senang nonton Lorde di We The Fest 2018, lalu nulis kayak begini. Tenang, kedua hal ini ada hubungannya.

Kemarin ada yang bilang di Twitter, kalau dia pengin aku nulis tentang pengalaman-pengalaman nonton konser musisi kesukaanku. Dengan perasaan khawatir bahwa anxiety ku bisa datang kapan saja, aku tetap memutuskan untuk pergi ke We The Fest meskipun aku sempat berpikir untuk pulang. Lalu apa yang membuatku tetap ingin pergi?

Di tahun 2011 sampai 2014, aku berkontribusi untuk media online bernama Gigsplay dan Jazzuality sebagai fotografer. Sebuah kontribusi sebagai fotografer yang membantu orang-orang menggambarkan acara musik atau konser yang ada di Jakarta dan Bandung. Melalui kontribusi itu, aku bisa berkenalan dengan musisi-musisi hebat, dari musisi indie label seperti The Trees and The Wild (yang mana Iga Massardi sekarang tergabung dalam band Barasuara) dan juga Tulus, sampai musisi besar seperti Tompi. Mereka ini orang-orang hebat yang (menurutku) juga tidak akan luput dari masalah yang sekiranya membebani pikiran mereka, mungkin beban pikiran itu membuat mereka ingin berhenti berkarya atau malah terus berkarya karena itu adalah "obat" mereka.

Di We The Fest 2018 hari pertama, aku ngga sengaja bertemu dengan Tulus, penyanyi kesukaan yang selalu aku foto di atas panggung selama dua tahun. Aku menyapanya, dan dia memberi sapaan dan pelukan yang sangat hangat. Ah, dia masih ingat denganku dan menganggapku sebagai temannya, bukan sebagai penggemar atau fotografer yang selalu berada di depan panggung untuk memotret dia saat menyanyi. Begitu juga dengan Iga Massardi, mengobrol singkat dan akrab sering kami lakukan jika kami bertemu di sebuah acara musik. Ya, mereka mengenalku melalui foto-foto mereka hasil karyaku. Mereka masih mengingatku. Beruntung bukan? Penampilan Lorde di We The Fest 2018 berhasil membuatku bernyanyi dengan lantang, berteriak dari hati yang terdalam, dan itu membuatku puas. SANGAT PUAS.

Karena anxiety problem, keinginanku untuk melanjutkan hobby lari dan fotografi sempat hilang begitu saja. Melihat sepatu lari dan kamera pun aku ngga mau. Sempat ingin menyerah saja rasanya, tapi sayangnya (atau beruntungnya) aku tipe orang yang memikirkan segala hal dalam jangka panjang. Sempat mengalami panic attack terhebat dalam hidup karena aku berpikir keras, berusaha mengingat hal-hal menyenangkan yang bisa membuatku tersenyum bahkan tertawa bahagia untuk mengalahkan hal-hal buruk yang pernah atau sedang aku alami sampai saat ini, termasuk ikhlas dalam melepaskan seseorang yang masih sangat dekat secara keberadaan. Aku berusaha untuk menyelesaikan masalahku satu per satu dengan tenang dan sabar meskipun itu menyiksa.

Suatu hari aku kembali melihat foto-foto di akun Instagramku. Hampir semua tempat yang aku inginkan sudah aku injak, konser yang sejak lama aku incar sudah aku datangi, hidupku kurang apa? Kurang bersyukur? Mungkin. Harusnya aku bersyukur karena masih bisa merasakan sakit.

"Wah, Nuri berani ya ke luar negeri sendirian!"

"Loe nonton konser sendirian? Nekat juga!"

Ngga, aku ngga nekat. Aku cukup berani, kalau aku boleh bilang tentang diriku sendiri. Mengumpulkan keberanian memang butuh waktu, mengumpulkan uang lebih memakan waktu lagi. Lalu apa pemicu yang membuatku ingin pergi nonton konser atau melakukan sesuatu yang agak sulit untuk dilakukan bersama atau untuk orang lain?

Pertanyaan yang sederhana untuk diri sendiri, yaitu...

"Kapan lagi?"

Mengantar sahabat ke pelaminan.

 Kesampaian ke Jepang bareng teman-teman.

Kesampaian nonton konser U2 di London, impian sejak SMA.

Menjadi relawan di pelosok Indonesia

Selama aku berjuang melawan keinginan untuk bunuh diri, aku menyadari bahwa keinginan untuk mengejar impian-impian yang aku punya dan impian-impian yang belum terwujudlah yang membuatku masih bernafas dan masih ada keinginan untuk hidup sampai detik ini. Mungkin aku kehilangan banyak teman karena aku sengaja tidak mempertahankan mereka, karena semakin banyak orang yang aku punya, peluang untuk tersakiti juga banyak meskipun terkadang sakit hati atau kecewa disebabkan oleh harapan yang terlalu tinggi terhadap seseorang atau orang banyak. Mungkin suatu hari nanti aku bakal benar-benar hancur ketika panic attack ku kambuh lagi dan aku lebih memilih mengatasinya sendirian. Aku sempat bergantung dengan seseorang dan itu membuatku makin tidak bisa mengendalikan emosi ketika dia ngga ada buatku sepenuhnya. Dalam rahim ibu, aku sendirian. Di dalam liang kubur nanti, aku juga sendirian. Jadi ngga ada salahnya ketika menjalani hidup ini juga seorang diri, nantinya kesendirian dan kesepian menjadi hal yang biasa. 

Aku tidak pengin membebani seseorang sampai nanti akhirnya nanti dia bertanya, "Apa jadinya kamu tanpa aku?". Habluminallah, meskipun aku manusia yang sudah berbuat dosa yang ngga terhitung (dan akan terus bertambah), aku masih punya Allah SWT. Habluminannas, lebih baik aku sendirian daripada tersakiti, menyakiti, dan mengecewakan orang lain meskipun niat mereka baik. Iya, aku skeptik soal itu. Jodoh? Itu hanya Tuhan yang tau. Jangan ngomong soal jodoh ke aku karena aku pernah gagal sekali dan aku ngga ingin itu terulang lagi

Aku bisa kuat karena pernah hancur sebelumnya. Aku bisa bertahan karena aku masih ingin. 

Apa aku masih menangis sebelum tidur atau setelah bangun tidur? Masih. Apakah aku masih ingin traveling tahun depan sesuai rencana sebelumnya? Tentu masih. Melihat peta dan merencakan perjalanan yang entah kapan bakal terlaksana itu menyenangkan, setidaknya aku punya rencana dalam jangka panjang yang harus aku jalani untuk bertahan hidup. Aku tidak ingin semua rencanaku gagal. Memang benar kata J.K Rowling, 

"... Climbing out of poverty by your own efforts, that is indeed something on which to pride yourself, but poverty itself is romanticised only by fools. What I feared most for myself at your age was not poverty, but failure. ”

Share:

0 comments