Expecto Patronum: Semoga Ini yang Terakhir


Bukan, ini bukan tulisan tentang keputusasaanku akan hidup, tapi berharap tulisan ini adalah tulisan terakhir yang menceritakan tentang aku dan anxiety problem. Karena semakin banyak aku cerita dan terbuka tentang itu, kepalaku bisa kembali sakit karena mengingat hal-hal yang tidak seharusnya aku ingat, termasuk reaksi orang tuaku saat mereka tahu tentang tattooku. Tapi aku akan bercerita sedikit tentang makna di balik tattooku ini.

Penggemar Harry Potter pasti tahu gambar di atas. Iya, itu The Deathly Hallows, film terakhir Harry Potter yang paling aku suka dan tanduk itu adalah bagian dari tanduk Patronusnya Harry Potter, yaitu rusa. 

Aku pengin punya tattoo sejak 2-3 tahun lalu tetapi tidak dapat izin dari kedua orang tua dengan alasan aturan agama, tapi yang namanya kepingin banget ya tetep bikin. Lalu, kenapa Patronus rusa milik Harry Potter? Sebenarnya aku bisa memakai Patronusnya siapa aja karena pada dasarnya Patronus charm digunakan untuk mengusir atau menghalau Dementor atau Death Eater, tetapi setelah dipikir-pikir, untuk desain tattoo, rusa lah yang paling pas. 

Buatku, Dementor adalah anxiety problem yang aku hadapi sejak tahun 2015 dan Patronus adalah bentuk dukungan teman-teman buatku untuk membuatku tetap kuat, dan untuk tetap hidup. Seperti di beberapa tulisan sebelumnya, aku bercerita bahwa anxiety problem hampir membuatku ingin bunuh diri karena sudah merasa tidak sanggup lagi menghadapi semuanya sendirian. Dalam hal itu, aku butuh dukungan yang nyata, bukan ceramah, apalagi nasihat sok tau, tapi dukungan sederhana seperti peluk dalam waktu singkat dan orang-orang yang bersedia mendengarkan ceritaku atau bahkan mau menyeka air mataku ketika aku kembali ingin menyerah tanpa banyak bertanya. 

Kembali membuka diri untuk orang lain itu sulit, sangat sulit. Kalau pun aku ingin mencoba, rasa takut akan penolakan dan pengabaian jauh lebih besar. Di situ aku kembali "dikalahkan", tapi masih ada kekuatan entah dari mana datangnya yang membuatku terus bertahan. Babak belur rasanya. Ada masanya di mana aku ingin tidur dan tidak bangun lagi. Masalah yang aku hadapi bukan masalah sepele seperti kehidupan percintaan anak remaja yang mana aku bisa menangis beberapa hari, kemudian aku lupa kenapa aku menangis. Tidak, yang aku hadapi jauh lebih berat dari itu, dan beragam. 

Aku mencoba keras untuk memulihkan diri dari babak belur yang disebabkan oleh banyak hal, termasuk rasa patah hati ketika orang yang bisa membuatku kembali ingin berkomitmen ternyata tidak sejalan. Buku pemberian dari dia hanya terpajang di rak buku, dan ajaibnya kami kembali berteman baik seperti sebelum konflik itu terjadi meskipun ada masanya di mana aku kembali teringat rasa patah hati yang amat sangat, dan aku bertekad suatu hari nanti aku harus lepas dari orang itu, bagaimanapun caranya seperti apa yang teman baikku bilang:

Adalah sebuah pertaruhan ketika aku memutuskan untuk memulai cerita dengan orang baru yang pasti lebih baik dan orang itu memiliki semua yang aku butuhkan tapi sayang, masa lalu tidak rela ditinggal begitu saja meskipun aku (bisa) tega. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, melakukan apa yang aku suka tanpa memedulikan omongan orang lain, lalu pergi secepatnya dari sini.

Share:

0 comments