Dari RuBI Sumba ke Ubud Writers and Readers Festival 2018

Nusa Tenggara Timur, satu dari 35 provinsi Indonesia membutuhkan peran serta lebih banyak dari insan-insan pendidikan Indonesia. Pulau Sumba menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Ruang Berbagi Ilmu (RuBI) tahun 2018.
Sumba… Ya keindahan alamnya telah banyak diangkat dalam berbagai hal. Sebut saja film Marlina Si Pembunuh Empat Babak, dengan manisnya menyorot sudut eksotisme Sumba. Atau dalam film Susah Sinyal yang berhasil menyajikan keramahan penduduk dan otentiknya budaya dari salah satu pulau di Provinsi NTT ini. Meski begitu, dunia pendidikan di Sumba belum secemerlang seperti yang nampak di ranah hiburan.
Salah satu yang harus diperhatikan di daerah ini adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hampir seluruh pengajar PAUD di Sumba merupakan ibu rumah tangga lulusan SMA dan belum memiliki pengalaman mengajar yang memadai. Padahal PAUD merupakan pondasi bagi pendidikan anak di jenjang selanjutnya. Hal tersebut menjadi salah satu alasan penyelenggaraan RuBI di pulau ini.

Sumba bukan daerah yang sulit dijangkau dengan pesawat, para relawan tidak perlu bersusah payah, kecuali perjuangan yang disebut “Bangun Pagi Buta” karena pesawat yang dipilih para relawan kebanyakan berangkat pada pukul 07.05 pagi dan 07.45 pagi meskipun kedua penerbangan itu akan dilanjutkan di Denpasar pada jam yang sama. Semua relawan yang berangkat pada hari yang sama bertemu di Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar, jeda waktu ke penerbangan berikutnya cukup lama sehingga bisa dipakai untuk ngopi dan mencari cemilan di luar ruang tunggu bandara.
Adalah relawan-relawan terpilih Ruang Berbagi Ilmu (RuBI) yang terdiri dari 12 relawan narasumber dan 5 relawan dokumentator yang bersedia membagi keahlian di bidangnya. Mereka tak hanya merelakan waktu namun juga uang untuk memajukan kualitas tenaga pendidik di Sumba. Mereka yang sebelumnya tidak pernah saling kenal, berkumpul dalam satu ruang untuk bekerja bersama demi pendidikan di Sumba.
Mereka datang dari berbagai latar belakang dan pekerjaan. Ada yang beberapa kali mengikuti kegiatan RuBI, ada juga yang baru pertama kali. Ada yang bekerja kantoran, ada juga yang masih mahasiswa. Meskipun hari kosong nan lowong sangat sulit ditemukan, hal itu tidak menghentikan mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini, karena untuk menjadi relawan di tempat yang jauh dari rumah itu bukan perkara mencari waktu, tapi menyediakan waktu.

Para relawan tidak bergerak sendiri, mereka dibantu oleh panitia lokal dan relawan RuBI yang berada di Sumba, mulai dari membagi informasi tentang cuaca, makanan yang ada, perjalanan, hingga kondisi pendidikan di sana. Para relawan tidak hanya menyiapkan materi pengajaran, tetapi juga perlengkapan dokumentasi untuk mengabadikan momen yang akan terjadi selama kegiatan berlangsung, yang nantinya akan dijadikan kenang-kenangan untuk semua orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut.



RuBI Sumba diselenggarakan selama dua hari dengan materi masing-masing harinya adalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Metode Belajar Kreatif (MBK). MBS merupakan materi yang membahas mengenai pengelolaan keuangan sekolah untuk pengembangan kebutuhan sarana dan prasarana.  Sedangkan MBK mengulas mengenai ragam kecerdasan yang dimiliki anak-anak, sehingga guru memiliki pendekatan yang tepat dalam mengajar kepada masing-masing anak didiknya.
Suhu panas memang mengkhawatirkan kami, namun sebenarnya ada hal lain yang jauh menghantui: hari pelaksanaan RuBI dan kesan guru setelahnya. Menantinya seperti menanti hari penghakiman. Dan akhirnya kami terharu. Kami yang datang dengan tujuan sederhana, saling berbagi pengetahuan ini, ternyata dibuat takjub dengan apa yang mata kami lihat. Para guru menerima kami dengan hati terbuka.
Materi-materi yang disampaikan oleh relawan narasumber disambut para peserta dengan antusias. Mungkin karena mereka jarang mengikuti pelatihan sejenis, tapi bisa jadi karena mereka memang bersemangat dengan materi yang disampaikan.



Di sisi lain, para relawan RuBI pun belajar dari guru-guru peserta. Bagaimana perbedaan justru memperkaya hidup kita, bahwa "Bhinneka Tunggal Ika" itu bukan slogan. Dalam satu ruang, para relawan yang berasal dari beragam suku maupun agama dapat membaur dengan para guru peserta. Di sini, RuBI tidak hanya mengajarkan para relawan belajar menghormati budaya, tetapi juga belajar mesra dengan perbedaan.


Cuaca dengan panas yang ekstrim langsung berdampak pada kondisi fisik relawan RuBI. Dehidrasi dan meningkatnya suhu tubuh sudah mulai kami rasakan sejak tapak pertama. Bayang-bayang menurunnya kondisi fisik pasca ini sudah mulai menghantui pikiran semua relawan yang tentu akan berdampak buruk pada kewajiban di Jakarta atau daerah karir masing-masing. Karenanya, saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan menjadi satu-satunya pilihan agar kondisi fisik kami bisa tetap terjaga. Seperti layaknya keluarga, di sini kami memang membentuk keluarga baru. Keluarga RuBI Sumba.





Perjalananku sebagai relawan di Indonesia timur tidak berhenti sampai di situ. Setelah RuBI Sumba berakhir, aku bertolak ke Bali untuk menjadi relawan di acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) untuk yang kelima kalinya.



Share:

0 comments