Selama 14 Tahun

Pernahkah kalian berpikir, di saat kalian menunggu seseorang yang kalian perhatikan selama bertahun-tahun dengan sabar bahkan geregetan sendiri, tanpa menagih kepastian bahwa kalian sekedar teman atau bahkan lebih sampai tidak menyadari bahwa sesungguhnya waktu yang kamu atau kalian lewati itu adalah sebuah proses pendewasaan dan menjadi pribadi yang lebih bertanggungjawab sehingga kalian akhirnya bisa sejalan?

Aku pernah, bahkan sedang mengalaminya

Empat belas tahun bukanlah waktu yang sebentar, tapi dengan kesabaran yang ada, hubungan kami sebagai teman dekat tidak berubah sedikitpun. Kami tetap saling berbagi cerita, keluh kesah, waktu, kenangan, kebahagiaan dan kekhawatiran. Kami sering dipisahkan oleh waktu dan jarak yang tidak sebentar. Tidak bertemu dan ngobrol selama berbulan-bulan adalah hal yang biasa bagiku, atau bagi kami. Entah karena aku tidak penting baginya atau sebaliknya, atau mungkin kami tidak  ingin membuat hubungan ini menjadi rumit. Kami tidak pernah menuntut apapun, apalagi menuntut status "teman" menjadi "pacar" meskipun aku pernah mengajaknya untuk berkomitmen sebanyak lima kali. Iya, lima kali. Dan tentu saja dia menolaknya dengan halus. Sebagai seseorang dengan zodiak Cancer yang cukup keras kepala, hanya seseorang dengan zodiak Taurus ini lah yang bisa membuatku nyaris bertekuk lutut. Sampai beberapa hari lalu, kami tahu bahwa kami masih belum sejalan, mungkin tidak akan pernah sejalan. Hal itu membuatku tidak menaruh harapan lebih. Apalagi negara yang akan kami tuju untuk memulai baru hidup sangatlah berbeda, dia ingin pindah ke Melbourne, sedangkan aku ingin pindah ke London. Hal yang sangat prinspil seperti itu tidak mungkin bisa dikalahkan dengan cara apapun. 

Lima tahun terakhir akhirnya aku sadar apa yang bisa membuatku sabar menunggu selama 14 tahun lamanya. Hal sederhana seperti tidak pernah membatalkan janji dan menjadi teman cerita yang sangat baik adalah alasannya.

Selama 14 tahun aku pernah berpacaran beberapa kali, entah bagaimana dengan dia, yang jelas setiap kali aku ada masalah atau ingin berkeluh kesah tentang pacar, dia yang aku tuju. Dia tau perjalanan hidupku seperti apa sedangkan aku sebaliknya, yang aku tau dari dia hanyalah lembur, lembur dan lembur, dia tidak pernah bercerita tentang kehidupan cintanya dan aku pun tidak pernah bertanya. Satu hal yang sangat kami tau adalah, kami sama-sama punya luka bathin yang besar dan belum bisa disembuhkan sampai sekarang. 






He knows I love him since 14 years ago but he never loves me back. The only thing I know right now is, as long as he always there for me, I'm not afraid about anything but I'm ready to lose him anytime. 

Bulan Maret lalu, salah satu sahabatku menikah dan aku menangis di saat dia mengucapkan ijab qabul. Kalau orang ini menikah, mungkin aku akan menangis karena pada akhirnya, ada yang bisa menyembuhkan lukanya yang tidak terlihat itu, dan yang aku pasti... orang yang dia pilih adalah bukan aku. Nampaknya, aku harus siap-siap luluh lantak untuk kesekian kalinya.

Share:

0 comments