Toleransi, Hati Nurani dan Akal Sehat.

Waktu aku traveling, beberapa kali aku dinilai bahkan dianggap seorang Muslim yang tidak baik dan juga seorang jihad cuma karena aku beragama Islam tapi ngga menjalani hidup sebagai mana seorang Muslim sesuai cerminan sikap rasul. Aku lahir sebagai seorang Muslim, dan aku besar di keluarga yang hampir semuanya beragama Islam, tapi mengingat kami semua hidup numpang di dunia yang sekiranya membuat kita harus menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial, jadilah kami, atau bahkan kamu, menjalani kehidupan dengan seimbang antara kehidupan sosial dengan norma dan agama yang berlaku. Keluargaku termasuk liberal dan demokratis. Aku boleh minum bir dan minuman beralkhohol asal tau batas dan tidak lupa sama rumah. Orang tuaku ngasih 4 peraturan keras buatku sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga, yaitu:

1. Aku ngga boleh pindah agama, karena itu beberapa hubunganku dengan cowok beda agama harus berhenti karena perbedaan ini padahal aku sendiri ngga masalah dengan pernikahan beda agama. Kenapa? Apalah gunanya jika aku menikah dengan lelaki yang seagama tapi ujung-ujungnya dia bukanlah seorang imam yang baik dan soleh hanya karena “Istri harus patuh kepada suami” yang disalah gunakan demi egonya sendiri, atau bahkan ngga sayang dan menjagaku sebagai mana mestinya.

2. Aku ngga boleh hamil di luar nikah. Ini mah aku juga ogah. Kalo pun aku pengin nikah dengan orang yang aku pengin tapi ngga dapet restu dari orang tua, ya ngga gini juga caranya.

3. Aku ngga boleh pakai narkoba. Jelas lah! Pancake durian masih lebih enak daripada narkoba, udah gitu murah lagi.

4. Aku ngga boleh bikin tattoo. Kata dosen agamaku, konteks menyakiti sendiri adalah sebuah dosa, entah itu secara lahir maupun bathin. Ketika kamu putus sama pacar, tidak bisa balikan tapi masih ngarep banget, itu bisa bikin kamu sakit hati, dan itu sama aja menyakiti diri sendiri bukan? Kalo tattoo, pait-paitnya aku nyesel karena udah bikin meskipun akhirnya bikin juga. OH YEAH! Persamaan dari kedua hal itu adalah, sama-sama sakit dan rasa sakitnya bisa hilang seiring jalannya waktu. Untuk soal dosa? Biarlah malaikat di kedua pundakku yang mencatat. Auk deh sekarang skor malaikat Raqib dan malaikat Atid berapa-berapa.

Toleransi. Aku pernah menjadi seorang minoritas di sebuah kota ketika aku traveling, bahkan aku sempat pacaran dengan cowok Inggris beberapa minggu setelah kami berkenalan. Awalnya sempat khawatir ketika dia tahu agamaku, dia sendiri beragama Kristen Protestan yang hampir aja menjadi seorang Atheis. Dia tipe orang yang ngga bisa mengikuti semua, aku ulangi, SEMUA ajaran dan peraturan agama yang ada. SEMUA ngga ada yang masuk akal di kehidupan dia. Oke, itu hak dia. Ketika aku tanya apa alasan dia tertarik denganku adalah karena hal yang sangat sederhana, menurut dia, Aku termasuk orang yang berpikiran cukup terbuka untuk seorang Muslim. Iya, Aku membela komunitas LGBT di dunia ini. Iya, aku suka melewatkan solat ketika aku males dan aku ngga malu untuk mengakui hal itu. Iya, aku suka ngebir. Dan iya, sebisa mungkin aku hidup di dunia ini ngga mengecewakan kedua orang tuaku. Hubungan kami berakhir ketika dia bilang Islam itu seksis, karena perempuan harus hormat dan patuh kepada laki-laki apalagi dalam keluarga hanya karena laki-laki adalah (calon) imam di keluarga. Dia atau siapapun boleh menghina sikap dan sifatku, tapi jangan agamaku. 

Kenapa kamu harus benci dengan orang yang berbeda agama dan keyakinan KALAU mereka sendiri tidak punya masalah pribadi sama kamu? Kenapa kamu harus benci dengan komunitas LGBT jika salah satu dari mereka adalah sahabat kamu sejak TK dan dia sangatlah santun dan menghormati orang tua dan keluargamu? Kenapa kamu harus benci dengan orang yang bahkan kamu ngga tau namanya, asal usulnya, cuma karena dia membela seseorang yang sangat amat memikirkan kesejahteraan orang banyak?

Logikanya adalah, kenapa kamu harus benci sama seseorang jika dia sendiri ngga bikin masalah sama kamu bahkan sampe bawa-bawa keluargamu? K e n a p a?

Termasuk menilai akhlak seorang manusia, terutama perempuan, cukupkah menilai dari cara berpakaiannya saja? Tiga bulan sebelum aku lulus SMA, aku memutuskan untuk memakai jilbab, nanggung emang, tapi kepengin. Ibu meyakinkanku berkali-kali, kemudian aku dan ibu membeli seragam SMA baru termasuk jilbab putih dan coklat untuk dipakai ke sekolah. Aku baru mulai rajin pakai setelah semester pertama kuliah, yaaa namanya juga belajar, awal-awalnya masih lepas-pakai. Singkat cerita, aku memutuskan lepas jilbab setelah batal menikah empat tahun lalu karena merasa tertekan, bukan karena kepercayaanku akan Tuhan hilang begitu saja, aku percaya Tuhan Maha Baik. 

Dengan lepas jilbab, aku merasa lebih bebas. Aku mulai merokok sekitar 10 tahun yang lalu, dan akan terlihat tidak pantas apabila aku merokok di tempat umum di saat aku masih memakai jilbab. Setelah berpikir panjang, akhirnya aku mengalahkan jilbab yang menutup rambutku selama tujuh tahun lamanya. Reaksi orang tuaku jelas tidak santai, mereka bertanya kenapa dan aku mengutarakan alasan dan perasaanku. Awalnya mereka khawatir tapi lambat laun mereka mau mengerti. Aku masih memakai pakaian yang sudah dibatasi oleh bapak. Hanya di Bali dan saat traveling ke luar negeri aku bisa bebas berekspresi, memakai celana pendek dan kaos oblong atau dress tanpa lengan. Satu hal yang mereka sadari, sifatku yang mereka sangat kenal tidak berubah sedikit pun, dengan atau tanpa jilbab, sebisa mungkin sikap dan perkataanku tidak menyakiti hati dan hidup orang lain. 



Berbuat baik sebenarnya tidak butuh alasan yang bertele-tele, bisa membuat orang lain bahagia adalah salah satu contoh pasaran yang diketahui banyak orang. Tapi berbuat kejahatan, alasannya pasti berbeda-beda, dan di saat kamu sadar alasan sebenarnya kenapa kamu berbuat jahat, aku yakin catatan malaikat Atid bakal penuh dalam waktu dalam beberapa detik aja. 

Jika orang-orang bilang, “Penyesalan selalu datang belakangan”, maka aku bakal bilang, “kalau di awal, namanya kesabaran”. Jika kamu mau bersabar, maka kamu ngga akan melakukan hal yang bodoh karena kamu kalap, khilaf dan emosi lalu berujung penyesalan. 

Manusia diberikan hati nurani dan akal sehat oleh Tuhan, dan itu bukan sekedar pemberian. Semua yang Tuhan berikan ke kita pasti ada gunanya. PASTI! Tapi jika kita menyesuaikan dengan kehidupan sosial yang ada, hati nurani dan akal sehati pasti sering berantem, dan itulah yang menentukan sikap dan sifat kita di dunia yang berdampak ke orang banyak.

Sekarang coba tanya kepada diri sendiri, atas dasar apa hati nurani dan akal sehatmu bisa membenci seseorang tanpa alasan yang sangat jelas? Perbedaan ras? Perbedaan agama? 

Aku menulis ini karena aku pernah hidup sebagai kaum minoritas di sebuah kota di Eropa, pernah dicap seorang jihad, pernah dikira seorang kafir, dan juga karena sahabat-sahabatku adalah non-muslim yang selalu setia ada buatku, menasihatiku dan sayang tanpa syarat apapun.


Share:

0 comments