Ketika Kita Sendiri yang Membuat Jalan Buntu

Tuhan itu Maha Baik

Aku percaya itu

Tuhan memberikan apa yang kita butuh, bukan apa yang kita pengin. Dari mana kita bisa tahu? Dari perjuangan kita untuk mendapatkan atau mempertahankan sesuatu atau seseorang. 

"Andaikan di dunia ini ngga ada agama, kita ngga perlu seperti ini", dia bilang. Sebenarnya, dengan adanya (perbedaan) agama pun kami ngga perlu berpisah, apalagi bukan keinginan kita sendiri.

Hari Sabtu, hari di mana aku sedang memikirkan di mana aku akan menghabiskan waktu dengan membaca buku sambil mendengarkan lagu seperti biasanya, hanya satu tempat yang terpikirkan olehku saat itu: sebuah coffee shop langganan di daerah Menteng. Aku duduk di kursi biasanya, setelah segelas kopi kesukaan datang, aku mulai menenggelamkan imajinasiku dalam sebuah buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Anak Semua Bangsa. Masih sisa seperempat buku seingatku. Aku membaca sambil mendengarkan lagu-lagu yang pas dan meminum kopiku sesekali, dan menyalakan rokok ketika aku ingin.

Imajinasiku menari dalam petualangan seorang Minke, sampai akhirnya aku merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Aku sempat ngga peduli dengan sekitarku, yang aku pedulikan hanyalah tesis dan buku yang sedang aku baca; berapa lama lagi dua hal ini akan selesai?

Sesekali aku membenahi rambutku dan menggulungnya lagi, melepas earphone dari kedua telinga, melihat sekitar lalu kembali membaca.

Saat itu di seberangku duduk tiga orang laki-laki, dua di antaranya memiliki tattoo yang aku kagumi. Percakapan mereka tentang musik membuat konsentrasiku buyar. Aku sengaja tetap memasang earphoneku tanpa lagu agar aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. 

Geregetan. Ingin gabung dalam percakapan mereka tapi ngga tahu caranya. Seorang Nuri ngga tahu bagaimana caranya berkenalan duluan? Itu aneh. Terlintas untuk sengaja menanyakan tattoo studio yang bagus di Jakarta, sampai akhirnya aku mengeluarkan kata-kata, "Mas... mas, kalau boleh tau, tattoo itu bikin di mana? Bagus!". Singkat cerita, dari situlah ceritaku dengan salah satu dari mereka dimulai.

Aku seorang muslim, dan dia seorang nasrani. Kami membicarakan banyak hal, mulai dari tattoo hingga pemahaman tentang konsep "open relationship". Lambat laun, keinginanku untuk tetap memiliki open relationship terhenti, karena hubungan seriuslah yang dia inginkan. Apa yang diharapkan dari hubungan dua manusia dengan agama yang berbeda jika banyak orang yang gagal menjalaninya karena perbedaan agama itu sendiri padahal semua agama mengajarkan kebaikan, apapun bentuknya?

Cara kerja Tuhan itu misterius memang, ketika aku menemukan seseorang dengan semua value yang aku butuhkan, kami terpaksa berpisah karena perbedaan agama. Padahal aku sendiri dan ibu (akhirnya) bisa menerima perbedaan agama dalam hubungan serius. 

Menyakitkan bukan?

Apakah hubungan kami bubar setelah dia melontarkan keputusannya? Mungkin. Tapi yang jelas, aku akan mempertahankan keputusanku untuk memperjuangkan dia. Bukan, ini bukan dalam rangka ngasih makan ego, tapi aku mempertahankan hubungan yang memiliki tujuan baik dari awal dengan orang yang aku butuhkan, dan itu bukan sesaat.

Apakah aku bakal melepaskan orang yang membantuku semakin dewasa dalam menghadapi hidup meskipun dia ngga ada di sampingku tapi terus menyemangatiku dengan caranya sendiri lewat telepon? Nope, aku ngga akan melepaskan orang seperti itu.

Semua terasa seperti ngga ada jalan keluar ketika segala hal dijadikan alasan, padahal kita sendiri yang bikin jalan buntu itu. 

Perasaan bisa berubah, begitu juga dengan orang dari pemilik perasaan itu. 

Mungkin sekarang Tuhan sedang berpangku tangan sambil tersenyum dan berkata, "Aku ingin tahu, sampai mana Nuri bisa berjuang dan bertahan"

Buat kalian yang sedang memperjuangkan cinta beda agama, ketahuilah, kamu ngga sendirian.

Share:

1 comments

  1. Saya juga merasakan hal yang sama, bahkan ga cuma beda agama, tapi beda paspor dan segambreng perbedaan budaya lainnya. Berat? Tentu, tapi tetap harus diperjuangkan toh?

    ReplyDelete