Satu Tahun Bersama Mereka

Jogja, Juli 2018

"Ngga apa-apa, Nuri. Nangis aja"

"Ngga apa-apa, kak. Marah aja ke kita, jangan ke yang lain"

Dua kalimat itu sering aku denger dari Celixa dan Rere di saat aku sedih dan marah karena sakit hati, apalagi setelah putus beberapa bulan lalu. That's not the first cut but it's the deepest. Itu bukan sakit hati yang pertama kali tapi sakit hati yang paling sakit. Bagaimana ngga, di saat aku berjuang, yang di sana menyerah begitu saja. Berjuang sendirian itu melelahkan tapi mereka berdua selalu berusaha menguatkan. Sempat pengin drop out dari kampus karena harus nambah satu semester dan itu bakal membebani orang tua dari sisi finansial tapi ibuku memintaku untuk bertahan meskipun beliau ngga melihat berapa banyak air mata dan keringat yang sudah aku kucurkan untuk mendapatkan gelar master, mungkin beliau ngga pengin lihat juga karena ngga tega. Beberapa bulan lalu aku ngga lulus seminar proposal tesis dan diputusin sehari setelahnya. Lengkap sudah sedih dan sakit hatinya. 

Sempet mikir bahwa aku bodoh sebodoh-bodohnya manusia karena ngga lulus seminar proposal tesis, sempat merasa bahwa aku ngga berguna tapi pada akhirnya aku mikir, dengan berani melanjutkan pendidikan sampai S2 aja udah membuktikan bahwa aku mampu secara fisik, bathin dan pikiran untuk meningkatkan kualitas diri. Aku selalu berkata bahwa diri sendiri, "Nuri, loe itu keras kepala. Loe ngga akan berhenti sampai loe dapetin apa yang loe pengin. Jangan menyerah sekarang, udah sejauh ini lho!" untuk bertahan hidup.

Di saat aku sedang kalut, marah dan nangis ngga jelas, aku pernah mikir bahwa Tuhan segitu ngga sukanya melihat aku keras kepala tapi kenyataannya adalah sebaliknya, Tuhan ingin melihat seberapa kuat aku bertahan untuk menyelesaikan apa yang sudah aku mulai, dan kalau bisa, aku tetap bertahan ketika semuanya sudah selesai karena hidup itu penuh dengan kejutan yang menanti.

Jakarta, Maret 2019

Punya mereka berdua itu... Berkah yang ngga bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tuhan mempertemukan aku dengan mereka berdua di saat yang sangat tepat. Ada masanya seorang manusia merasa lelah untuk bertahan seorang diri, dan ada masanya aku merasa ngga punya siapa-siapa padahal.... YANG SAYANG AKU TUH BANYAK, NJIR!

Di saat seseorang merasa malu karena aku menangis di hadapannya, ada mereka yang menyuruhku menangis ketika rasa kecewa dan sedih ngga bisa ditahan lagi, udah gitu bonus pelukan hangat yang disusul dengan celetukan nyeleneh yang bisa membuatku terhibur dan kembali tertawa. 

Di saat dunia memusuhi kami, 
Kami saling menguatkan dan saling melindungi. 
Di saat orang-orang (mungkin) membenci kami, 
Kami saling mengasihi dan mendapatkan kasih dari yang lain,
...dari orang yang lebih mengenal kami. 

Kami hanyalah tiga perempuan biasa yang memiliki impian besar dan kami saling menguatkan ketika yang lain butuh dukungan, atau di saat ada yang ingin menghancurkan kami. Mungkin ada masanya kami ingin menyerah dan berhenti karena merasa lelah, tapi tidak sekarang, setidaknya tidak hari ini.

Thank you for your loves, girls. I love you til the end of my life.

Selamat satu tahun bersama.


Jakarta, Juli 2019

Share:

0 comments